ISRO MI’ROJ DAN INTEGRITAS KEMENAG

ISRO MI’ROJ DAN INTEGRITAS KEMENAG
Oleh: Aji Sofanudin

Kapal besar Kementerian Agama RI terlihat “oleng” ketika Ketua Umum PPP, Romahurmuzy terkena operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Surabaya (15/3/19). Bagaimana tidak? OTT Romy terkai isu “jual beli jabatan” yang melibatkan dua pejabat Kementerian Agama. Sehari kemudian, dua ASN tersebut ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

KPK juga menyegel ruangan Menteri Agama dan menemukan uang senilai US$ 30 ribu dan Rp 180 juta rupiah (18/3/19). Juru bicara KPK, Febri Diansyah memastikan bahwa uang ratusan juta yang disita bukan uang honorarium Menteri Agama.

Di salah satu program TV nasional, Mahfudz MD blak-blakan tentang praktik-praktik “haram” Kemenag terutama pemilihan rektor di dunia perguruan tinggi agama Islam (PTAIN). Muaranya pada Peraturan Menteri Agama RI Nomor 68 Tahun 2015, di mana Menteri Agama memiliki otoritas penuh untuk menentukan siapa rektor di perguruan tinggi tersebut.

Fenomena tersebut bertolak belakang dengan jargon lima budaya kerja Kementerian Agama RI. Integritas merupakan nilai fundamental yang melandasi 4 nilai budaya kerja yang lainnya; profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Integritas adalah keselarasan antara hati, pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan benar. Indikator utamanya adalah menolak korupsi, suap, dan gratifikasi.

Prestasi Kementerian Agama RI

Menurut siaran pers Kementerian Agama prestasi kemenag dari tahun ke tahun semakin membaik. Opini BPK atas Laporan Keuangan Kementerian Agama (LKKA) tahun 2014 adalah wajar dengan pengecualian (WDP), tahun 2015 menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Demikian juga LKKA tahun 2016, 2017, dan 2018. Artinya auditor BPK meyakini bahwa berdasarkan bukti-bukti audit dikumpulkan, Kemenag telah menyelenggarakan prinsip akuntansi yang berlaku umum dengan baik.

Indeks reformasi birokrasi (RB) di Kemenag juga mulai bergeliat. Pada tahun 2014 Indeks RB Kemenag baru 54,83 atau masuk kategori “CC”, perlahan angkanya naik menjadi 62,28 atau “B” (tahun 2015), 69,14 atau “B” (tahun 2016); 73,27 atau BB (tahun 2017); dan 74,02 atau “BB” (tahun 2018).

Demikian juga Indeks Kepuasan Jamaah Haji Indonesia (IKJHI) hasil survey Badan Pusat Statistik. Pada tahun 2014 sebesar 81,52. Indeks ini terus naik menjadi 82,67 (2015); 83,83 (2016); dan 84,85 (2017) semuanya dalam kategori memuaskan. Puncaknya pada tahun 2018, IKJHI mencapai nilai 85,23, sehingga masuk kategori sangat memuaskan.

Angka-angka kuantitatif tersebut belum sepenuhnya menggambarkan integritas sebagai budaya kerja di Kementerian Agama RI. OTT KPK yang melibatkan dua pejabat Kementerian Agama di Surabaya setidaknya menegaskan narasi tersebut. Menteri LHS tercatat paling banyak melaporkan dan mengembalikan gratifikasi kepada KPK. Meskipun tentu disadari bahwa menteri adalah manusia biasa, yang tentu saja tidak terjaga dari dosa (ma’shum).

Isro Mi’roj Menumbuhkan Integritas

Mafhum bahwa berdasarkan kalender hijriyah, sekarang ini kita memasuki bulan Rajab, salah satu bulan yang merupakan bulan mulia. Dalam bulan rajab, ada satu hari yang penting dan bersejarah, yakni tanggal 27 rajab.

Peristiwa penting itu diabadikan oleh Allah melalui QS Al-Isro: 1 yakni peristiwa Isro dan Mi’roj Nabi Muhammad saw.

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang agung, yaitu Allah SWT memberikan keistimewaan kepada Nabi Muhammad untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram (Makkah) menuju Masjidil Aqsha (Palestina). Jarak masjidil haram ke masjidil aqsa sekitar 1.481 km. Jarak tempuh ini sama dengan tiga kali Semarang-Jakarta.

Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratil Muntaha untuk menghadap Allah subhanahu wata’ala sang pencipta Alam semesta. Oleh-oleh penting Isro Mi’roj adalah kewajiban kita untuk mendirikan sholat sehari semalam 5 kali: Isya-Shubuh-Luhur-Ashr-Maghrib (ISLAM).

Pada awalnya adalah perintah untuk mendirikan sholat 50 waktu sehari semalam, atas saran Nabi Musa, Nabi Muhammad minta discount kepada Allah sehingga menjadi 5 waktu sehari semalam.

Pagi harinya, nabi menceritakan peristiwa Isro Mi’roj kepada kaum Quraisy. Pada waktu itu banyak orang yang tidak percaya. Bahkan kaum muslimin pun banyak yang keluar dari Islam (murtad). Semuanya tidak percaya, dikisahkan pada waktu itu, hanya satu orang yang percaya. Dialah Abu Bakar, sehingga beliau mendapatkan gelar as-shiddieq (yg membenarkan).

Abu Bakar beralasan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang tidak pernah bohong. Nabi Muhammad memiliki integritas yang tinggi. Apapun yang disampaikan Nabi selalu ditepati, berbeda dengan fenomena sekarang. Bahkan oleh pimpinan partai politik yang berasaskan Islam sekalipun.

Peristiwa 15 Maret 2019 di Surabaya kemarin menunjukkan kepada kita bahwa masih ada (kalau tidak boleh dikatakan banyak) pejabat yang memiliki integritas yang rendah. Nabi Muhammad dikenal sebagai Al-Amin, orang yang dipercaya, orang yang memiliki integraitas yang tinggi. Sehingga apapun yang disampaikan oleh Nabi selalu merupakan kebenaran.

Peristiwa Isro Mi’roj Nabi Muhammad memberikan pelajaran agar kita senantiasa menjaga integritas. Menyelaraskan antara ucapan dengan perbuatan kita. Integritas adalah keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar.

Nabi Muhammad telah memberikan teladan, Al-Amin. Sehingga apapun yang disampaikan selalu merupakan kebenaran. Inilah nilai yang penting harus diteladani. Isro Mi’roj merupakan peristiwa penting dalam rangka meningkatkan integritas kita.

Salah satu nilai integritas adalah nilai kejujuran. Dengan senantiasa berkata jujur, orang akan dipercaya. Kejujuran adalah kualitas manusia dalam berkomunikasi dan bertindak berdasarkan kebenaran dan keadilan. Kejujuran berkaitan dengan kebenaran sebagai suatu nilai. Ini meliputi tindakan mendengar, bernalar dan berbicara.

Sholat mengajarkan kita untuk jujur. Meskipun sholat sendirian dan ditempat sunyi sekalipun tidak mungkin kemudian dikurangi rokaatnya. Dhuhur tetap dikerjakan 4 rokaat, ashar 4 rokaat, maghrib 3 rokaat dan seterusnya. Sholat mengajarkan kita memiliki integritas yang tinggi.

Pengakuan Abu Bakar terhadap kebenaran cerita Isro Mi’roj Nabi karena percaya kepada pribadi Muhammad saw yang memiiki integritas tinggi. Sehingga apapun yang dikatakan (meskipun sulit masuk akal) tetap saja dipercaya, karena Nabi memiliki nilai integritas 100. Wallahu’alam.

Semarang, 1 April 2019

Dr. Aji Sofanudin, MSi
Peneliti Senior pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Alumni HMI Cabang Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *